Forum/English | Forum/Achenese

Contents | Search | Post | Reply | Next | Previous | Up
Edisi Malay-Indonesian

 

 

Postkan artikel baru

Aturan diskusi

Cari artikel forum

 

Note: Please put three dashes/a line or copy and past this sign ( —— ) when starting a new paragraph.

 

 

 

 

 

Ganyang Aceh, Ganyang Malaysia, Ganyang Siapa Lagi? [1]

From: habagot
Category: Acheh and Its Future
Date: 03/08/05
Time: 23:05:12 -0500

Comments

Hotel Station, Kuala Lumpur, 16 Agustus 1945. Datuk Jaafar sudah membulatkan tekad. Di hadapannya, petinggi militer Jepang tengah menyodorkan dua opsi: Malaysia merdeka atau bergabung dengan Indonesia—yang baru keesokan harinya memproklamasikan diri. Menurut Chin Peng dalam My Side History yang resensinya dimuat Kompas, 20 Maret 2004, Datuk Jaafar dan kawan-kawannya yang hadir pada pertemuan hari itu memilih bergabung dengan Indonesia. Kok bisa? Menurut Peng, inilah satu-satunya cara agar pasukan pendudukan Jepang tidak menggabungkan mereka dengan China. "Proses penggabungan Malaya ke Indonesia baru saja akan diresmikan, ketika mendadak terdengar berita dari radio, Kaisar Hirohito menyerah kepada Sekutu. Mendengar hal ini, seluruh peserta pertemuan langsung bubar…" tulis Ian Ward dan Norma Miraflor yang merekam kesaksian Peng. Ceritanya lalu menjadi lain. Malaysia menjadi negara merdeka pada 31 Agustus 1957 setelah Inggris–yang menerimanya dari Jepang—merestui kemerdekaan itu. Tunku Abdul Rahman menggelorakan darah 50.000 orang di Bandar Hilir dan mengumumkan kemerdekaan. Tapi kemerdekaan yang terkesan hibah dari London ini membuat Bung Karno tak enak hati. Apalagi bentuk federasi Malaysia terkepak hingga Sarawak yang berbatasan langsung dengan Borneo. Keresahan Soekarno memuncak saat meletusnya pemberontakan di Brunei pada Desember 1962. Adalah AM Azahari, Ketua Partai Rakyat, partai terbesar di wilayah itu, yang berniat membentuk negara merdeka Kalimantan Utara, yang meliputi wilayah bekas jajahan Inggris. Gagasan ini membangkitkan kecurigaan Soekarno terhadap federasi Malaysia dan membuatnya serasa dikepung kekuatan neokolonialisme pro-kapitalisme (blok Barat). Di tengah deru perang dingin, setelah pembunuhan atas diri John F Kennedy, sahabatnya, Soekarno memang berkiblat ke Moskwa, lalu ke Peking. MENJELANG PERTEMUAN HELSINKI II JK, JFK dan Tentara [4] Bung Karno beranggapan, federalisme Malaysia adalah perpanjangan tangan neokolonialisme Inggris untuk mengepung Indonesia. "Saya akan mengganyang Malaysia sebelum matahari terbit tanggal 1 Januari 1965," teriak Bung Karno. Itu bukan teriakan kosong. Sebab, Jakarta saat itu memang memiliki skondan di sejumlah wilayah di Malaysia. Mereka adalah para sukarelawan berhaluan komunis yang sebagian adalah warga keturunan China dan sudah mengangkat senjata melawan Inggris, jauh sebelum kelompok-kelompok komunis di Vietnam Selatan (Viet Cong), tersohor. Tanggal 21 Juli 1964 meletus kerusuhan rasial di Singapura, yang menewaskan 23 orang dan melukai 400 lainnya. Saat itu juga, pasukan Indonesia di bawah Panglima Komando Tempur II Brigjen Soepardjo, melakukan serangan ke Pontian, Negara Bagian Johor dengan dukungan sukarelawan asal Malaysia keturunan Tiong Hoa. "Penyerbuan tersebut mengalami kegagalan akibat terjadinya inefisiensi pada pasukan Indonesia, dilengkapi nasib baik di pihak pasukan Commonwealth (persemakmuran)," kata Peng. Di sini, kisah para tentara Indonesia yang digantung menjadi dongeng horor dari generasi ke generasi. Gagal dengan serangan pertama, tentara Indonesia kembali merangsek di Labis, juga wilayah Johor pada 2 September 1964. Saat itu, tak hanya fregat—seperti KRI KS Tubun yang disiagakan TNI AL di batas Ambalat—tapi juga kapal selam. Salah satu yang melegenda di kalangan TNI Angkatan Laut adalah kapal selam bernama RI Candrasa. Mesin perang ini dilengkapi 6 peluncur torpedo dan meriam anti serangan udara berkaliber 25 mm laras kembar. Jumlah awaknya mencapai 61 orang yang terdiri dari 8 perwira, 12 bintara, 38 tamtama, dan 3 orang pegawai sipil. Kapal perang ini pensiun (disposed) pada tahun 1971 setelah mengabdi pada politik konfrontasi sejak 1962. Tapi di saat yang sama, kerusuhan rasial kembali membakar Singapura. Wakil Perdana Menteri Malaysia, Tun Abdul Razak menemui Lee Kuan Yew di Singapura, mewartakan bahwa dalang kerusuhan rasial di negeri Singa itu tak lain adalah Jakarta. "Bagi saya, tuduhan semacam itu sekadar taktik para politikus yang selalu menempatkan kaum komunis sebagai kambing hitam dari segala macam peristiwa. Sama sekali pihak kami tidak terlibat peristiwa tersebut," kata Peng. Peng memang orang Malaysia, tetapi buku-bukunya dilarang beredar di negaranya sendiri. Ideologi komunis yang lebih mondial dan tak terlalu hirau dengan batas-batas negara, mengesankan dirinya lebih pro-Jakarta daripada Kuala Lumpur. Apalagi, Peng sendiri mengakui, politik konfrontasi yang dilancarkan Bung Karno telah menjadikan para gerilyawan komunis Malaysia, lebih kuat karena mempunyai kesempatan merekrut pasukan-pasukan baru. Puncak kekuatan mereka terjadi tahun 1968, ketika Partai Komunis Malaya (Communist Party of Malaya/CPM) memiliki 1.600 gerilyawan dan menikmati blessing in disguise (rahmat terselubung) dari agresifitas politik Soekarno. Tapi kekuatan ini gembos setelah pemimpin Uni Soviet Nikita Khurshchev memutuskan tak akan membantu perjuangan bersenjata bagi kelompok komunis di negara lain. Di bawah Khurshchev dan Kennedy, hubungan dua adidaya, Amerika dan Soviet, memang digiring lebih hangat. Namun para pentolan militer garis keras menentangnya. Kennedy pun dibunuh. Di saat yang sama, rejim Soekarno juga telah lengser dan digantikan barisan jenderal Angkatan Darat di bawah Letnan Jenderal Soeharto yang lebih pro-Barat dan sekaligus merekatkan poros ke Kuala Lumpur. Selama masa perjuangan mengusir Inggris dari semenanjung, Chin Peng sendiri kehilangan hingga 5.000 gerilyawan. "Termasuk 200 orang, diantaranya sejumlah perempuan, telah dihukum gantung sampai mati. Inggris tidak pernah bersedia merinci jumlah korban tersebut dan juga tidak ada yang sampai sekarang ini berani menyebutnya pembunuh haus darah." Malaysia sebagai Musuh Bersama Setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965, sebenarnya konfrontasi dengan Malaysia masih dilanjutkan. Buktinya, pada 27 Maret 1966, Bung Karno menandatangani Keputusan Presiden No 62 yang mengangkat Jenderal AH Nasution sebagai Wakil Panglima Besar Komando Ganjang Malaysia (Wapangsar Kogam). Saking seriusnya dengan politik konfrontasi ini, Nasution diberikan kedudukan setingkat menteri. Ini semakin menguatkan dugaan bahwa Bung Karno yang mulai tidak populer setelah G30S, menciptakan musuh bersama di luar untuk meredam gejolak di dalam negeri. "Suatu bangsa selalu memerlukan musuh," kata Bung Karno saat menyulut konfrontasi. Memang politik konfrontasi digalakkan Soekarno pada 8 Januari 1963 setelah Wakil Perdana Menteri I Soebandrio mengumumkannya secara resmi. Dan saat itu, posisi politiknya masih kuat menyusul kemenangannya di Irian Barat. Tetapi setelah 30 September 1965, hasrat berkonfrontasi dengan Malaysia sepertinya lebih untuk konsumsi dalam negeri daripada sebaliknya. Soekarno menghadapi demonstrasi-demonstrasi mahasiswa yang digerakkan oleh Angkatan Darat yang tak lagi loyal kepadanya. Dan dia percaya, dengan menciptakan musuh di luar, elemen-elemen ini akan terangsang kembali saraf “nasionalisme” nya. Tentu saja tafsir nasionalisme di sini adalah dukungan politik kepada Soekarno. Sebab, menjual isu perang dengan Malaysia terbukti manjur untuk menyatukan elemen ideologis yang mulai terfragmentasi pasca-pembubaran Masyumi. Rumekso Setyadi dan Saiful H Shodiq dari Syarikat Indonesia menulis, mobilisasi ganyang Malaysia telah menyatukan elemen komunis (PKI) dan Islam (Nahdatul Ulama) dalam bentuk latihan-latihan bersama kemiliteran di beberapa pusat pelatihan atau yang saat itu populer dengan sebutan training center (TC). “Pemuda Rakyat juga mengadakan TC di Kota Gede dan Cebongan dengan instruktur dari Korem 072 dan Kodim Yogyakarta... Pemuda Ansor juga terlibat sebagai peserta dalam TC di Cebongan Sleman,” tulis mereka. [bersambung]

 

 

 

 

 

AT FrontPage | Quotable Quotes | Scholarships | WorldWide media | Malay Edition | Achenese Edition  | WordWealth | Community

Archive | AT Inc. & Disclaimer | Testimonials | Write Us

Copyright © 1999 - 2004 The Acheh Times, powered by Hivelocity.